1 Mei 2015

Green Building Awareness Award sebagai Upaya Mewujudkan Tata Kota Surabaya yang Berwawasan Lingkungan



Perubahan iklim yang terjadi pada dua dekade belakangan ini akan menjadi masa perubahan iklim yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak pasti. Hal ini tentunya menjadi kekhawatiran bagi umat manusia akan timbulnya bencana alam yang datang secara tiba-tiba.
Di beberapa provinsi, kerusakan lingkungan menyebabkan bencana alam. Sepanjang 2012, BNPB mencatat 730 kejadian bencana alam, yang menelan 487 orang meninggal dunia dan memaksa 675.798 orang mengungsi (Wihardandi, 2012).
Daya dukung kota-kota semakin lemah dalam memfasilitasi kebutuhan warga kota, sehingga menyebabkan terjadiya peningkatan polusi udara, pencemaran air, dan pencemaran tanah di perkotaan semakin meningkat.
Berdasarkan Status Lingkungan Hidup Indonesia tahun 2012, Konsentrasi particulate matter (PM) tahunan di kota Surabaya, Pekanbaru, Bandung, dan Jakarta melebihi baku mutu. Particulate matter terdiri dari campuran yang kompleks antara partikel padat dan cair dari bahan organik dan anorganik yang tersuspensi di udara. Selain itu Surabaya terdeteksi memiliki kadar Pb tertinggi, diikuti Tangerang dan Jakarta, sehingga kualitas udara di kota-kota tersebut perlu mendapatkan perhatian (KLH, 2013).
Perubahan lingkungan air juga mempengaruhi kejadian penyakit, seperti demam berdarah dengue dan malaria. Tingkat kejadian penyakit demam berdarah sejak tahun 2008 hingga 2010 terjadi peningkatan, pada tahun 2008 tingkat kejadian penyakit demam berdarah sebesar 185.258.000 kasus, sedangkan pada tahun 2010 tingkat kejadian penyakit demam berdarah sebesar 211.236.000 kasus (KLH, 2013).
Berdasarkan dokumen Second National Communication (SNC) Indonesia 2010, emisi Gas Rumah Kaca (GRK) Indonesia pada tahun 2000 mencapai 1,38 Gigaton CO2e, dan pada 2005 emisi GRK mencapai 1,99 Gigaton CO2e (Dewi, 2011).
Pemenuhan kebutuhan warga untuk bisa hidup sehat, nyaman, dan sejahtera, menjadi persoalan yang perlu dicari solusinya oleh semua pihak. Seiring jalannya pembangunan, dalam upaya memberikan kenyamanan dan lingkungan sehat bagi warga kota, konsep “Green City” (kota hijau berwawasan lingkungan) dapat menjadi solusi bagi pelaku pembangunan kota.
Kota hijau (green city) adalah kota yang sehat secara ekologis. Kota hijau merupakan kota yang memanfaatkan secara efektif dan efisien sumber daya air dan energi, mengurangi limbah, menerapkan sistem transportasi terpadu, menjamin kesehatan lingkungan, dan menyinergikan lingkungan alami dan buatan, berdasarkan perencanaan dan perancangan kota yang berpihak pada prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (BKPRN, 2012).
Mewujudkan Kota Hijau dalam rangka menghadapi perubahan iklim diperlukan kerja sama dari masyarakat dan pemerintah. Tindakan yang dapat dilakukan adalah penerapan green building. Green bulding bukan saja memberikan manfaat secara ekologis, tetapi juga bernilai ekonomis, karena dapat menurunkan biaya operasional dan perawatan gedung. Menurut Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 8 Tahun 2010 tentang Kriteria dan Sertifikasi Bangunan Ramah Lingkungan, bangunan ramah lingkungan (green guilding) adalah suatu bangunan yang menerapkan prinsip lingkungan dalam perancangan, pembangunan, pengoperasian, dan pengelolaannya dan aspek penting penanganan dampak perubahan iklim.
Salah satu upaya yang diusulkan untuk mendorong partisipasi masyarakat untuk menerapkan green building adalah menyelenggarakan “Green Building Awareness Award”, yang dilaksanakan untuk mendukung pelaksanaan kebijakan bangunan hijau di Kota Surabaya.
Maksud dan tujuan diselenggarakannya Green Building Awareness Award adalah untuk meningkatkan kepedulian warga Kota Surabaya dalam menerapkan konsep bangunan hijau berwawasan lingkungan dan mendukung kebijakan Pemerintah Kota Surabaya dalam mengurangi emisi gas rumah kaca, terutama yang berasal dari kegiatan di dalam bangunan gedung.
Kriteria penilaian yang akan diterapkan dalam Green Building Awareness Award disesuaikan dengan perangkat penilaian yang telah dirumuskan oleh lembaga Green Building Council Indonesia (GBCI). Perangkat penilaian inilah yang menentukan suatu bangunan dapat dinyatakan layak bersertifikat bangunan hijau atau belum. Adapun enam aspek yang digunakan sebagai perangkat penilaian adalah:
1.         Tepat Guna Lahan (Appropriate Site Development)
Hal ini berkaitan dengan cara membangun suatu gedung yang sesuai, baik dari segi fungsi dan penggunaan lahan yang digunakan. Misalnya memperhatikan area penghijaun (tanaman) yang terdapat di sekitar bangunan, memiliki aksebilitas komunitas sehingga mempermudah masyarakat dalam menjalankan kegiatan sehari-hari dan menghindari penggunaan kendaraan bermotor, mendorong pengguna gedung untuk menggunakan transportasi umum, terdapat fasilitas pengguna sepeda, dan sebagainya.
2.         Efisiensi dan Konservasi Energi (Energy Efficiency and Conservation)
Penghematan energi atau efisisensi energi menjadi hal yang harus diperhatikan dalam pembangunan gedung berkonsep green building. Misalnya dalam pembuatan ventilasi dan jendela ruang yang ideal adalah bisa menambah pencahayaan ruang dan memberikan sirkulasi udara yang cukup. Sehingga hal ini juga bisa mengurangi penggunaan AC atau pencahayaan seperti lampu secara berlebihan.
3.         Konservasi Air (Water Conservation)
Pada gedung tinggi misalnya dapat diterapkan seperti penggunaan toilet dengan sistem flush otomatis, hal ini demi mengukur kebutuhan air yang digunakan. Penghematan lain dilakukan dengan daur ulang seperti menampung air hujan, yang nantinya dapat digunakan untuk menyiram tanaman yang terdapat di sekitar gedung.
4.         Sumber dan Siklus Material (Material Resources and Cycle)
Penggunaan material yang dapat di daur ulang dapat dilakukan guna menghemat pengeluaran. Menggunakan material lokal, sehingga mengurangi jejak karbon dari moda transportasi untuk distribusi material tersebut.
5.         Kualitas Udara dan Kenyamanan Udara (Indoor Air Health and Comfort)
Terciptanya kenyamanan suatu ruang, tak hanya ditunjang dari segi desain ruang, namun kesehatan di dalam ruangan juga perlu diperhatikan. Diantaranya dengan tidak memperbolehkan merokok dalam ruangan, atau jika memungkinkan menyediakan ruang khusus untuk merokok. Mengatur temperatur udara sehingga ruang berada pada suhu ruang yang normal tidak terlalu dingin juga panas.
6.         Manajemen Lingkungan Bangunan (Building and Enviroment Management)
Mendorong gerakan pemilahan sampah secara sederhana yang mempermudah proses daur ulang, kemudian melakukan pengolahan sampah organik dan anorganik secara mandiri atau bekerja sama dengan badan resmi pengolahan limbah organik dan anorganik yang memiliki prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dapat dilakukan guna menambah nilai manfaat dan dapat mengurangi dampak lingkungan (GBCI, 2012).
Salah satu bangunan di Kota Surabaya yang telah menerapkan konsep green building adalah Kantor Pusat Wonokoyo Group (Grha Wonokoyo). Grha Wonokoyo menjadi pemenang pertama dalam Kompetisi Manajemen Energi pada Bangunan Gedung (ASEAN ENERGY AWARD) tahun 2013. Kompetisi ini diselenggarakan oleh ASEAN Centre for Energy (ACE) dan merupakan kegiatan rutin tahunan yang dimulai tahun 2002 (Anonim, 2013).

Gambar 1. Grha Wonokoyo
Langkah strategis yang dapat dilakukan dalam Green Building Awareness Award adalah mengkampanyekan dan mengutamakan penyadaran masyarakat terlebih dahulu terhadap manfaat dari green guilding, kemudian ditindak lanjuti dengan regulasi yang diatur dalam peraturan daerah (perda). Ketika nanti perda sudah disahkan, maka masyarakat dapat lebih mudah menyesuaikan konsep green guilding ini dikarenakan sudah berjalan sebelumnya.
Ketika Green Building Awareness Award telah berjalan, gedung-gedung tersebut nantinya akan diberi plakat yang menginformasikan tingkatan atau grade, sejauh mana bangunan itu menerapkan konsep green guilding. Plakat tersebut wajib dipasang di tempat yang dapat dilihat semua orang. Diharapkan nantinya gedung-gedung bertingkat di Surabaya akan berlomba-lomba menerapkan prinsip green building, karena jika tidak menerepkan prinsip green building, plakat rangking negatif akan terpampang dan itu dapat berpengaruh terhadap citra gedung tersebut. Selain itu sanksi administratif dan juga sanksi denda juga dapat diterapkan untuk memberikan efek jera terhadap pemilik gedung tersebut.

Referensi
______. 2010. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 8 Tahun 2010 tentang Kriteria dan Sertifikasi Bangunan Ramah Lingkungan.
Anonim. 2013. Grha Wonokoyo Berjaya di Tingkat ASEAN diakses dalam http://www.wonokoyo.co.id/news/131/grha_wonokoyo_berjaya_di_tingkat_asean.htm [8 Agustus 2014].
Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional, 2012. Buletin Tata Ruang edisi Januari-Februari 2012. Jakarta.
Dewi, Retno Gumilang, 2011. Indonesia’s Second National Communication. The 9th Workshop on GHG Inventories in Asia (WGIA9), Capacity building for measurability, reportability and verifiability. Phnom Penh, 13-15 July 2011.
Green Building Council Indonesia. 2012. Perangkat Penilaian GREENSHIP diakses dalam http://www.gbcindonesia.org/index.php/2012-08-01-03-25-31/2012-08-02-03-43-34/rating-tools [8 Agustus 2014].
Kementerian Lingkungan Hidup, 2013. Status Lingkungan Hidup Indonesia 2012. Jakarta.
Wihardandi, Aji, 2012. Kaleidoskop Bencana Lingkungan 2012: Degradasi Hutan Melaju, Banjir Menerjang Manusia diakses dalam http://www.mongabay.co.id/2012/12/28/kalesidoskop-bencana-lingkungan-2012-degradasi-hutan-melaju-banjir-menerjang-manusia
[7 Agustus 2014].

0 komentar:

Posting Komentar

Curriculum Vitae

CV