29 Jun 2014

Rumah Panggung sebagai Upaya Peningkatan Daerah Resapan Air Berbasis Kearifan Lokal Guna Mengatasi Permasalahan Banjir di Indonesia

Setiap tahun bencana banjir selalu melanda Indonesia. Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), selama Januari 2014 telah terjadi 182 kejadian bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan puting beliung di berbagai daerah di Indonesia. Dari total tersebut, telah memakan korban jiwa hingga sebanyak 137 jiwa. Selain memakan korban jiwa, bencana banjir juga mengakibatkan rusaknya rumah warga, terganggunya aktivitas perekonomian, timbulnya berbagai macam penyakit, dan sebagainya.

Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya banjir adalah karena kurangnya daerah resapan air. Daerah resapan air adalah daerah masuknya air dari permukaan tanah ke dalam zona jenuh air sehingga membentuk suatu aliran air tanah yang mengalir ke daerah yang lebih rendah.

Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, idealnya setiap kota memiliki ruang terbuka hijau seluas 30% dari luas kota yang dapat berupa telaga (waduk, danau, atau situ), green belt, taman, dan hutan kota yang berfungsi sebagai daerah resapan air. Namun faktanya di Jakarta saja saat ini hanya memiliki ruang terbuka hijau kurang dari 9,8% dari total luas daratan ibu kota. 

Salah satu solusi untuk meningkatkan daerah resapan air guna mengatasi permasalahan banjir adalah dengan membangun rumah panggung. Rumah panggung merupakan rumah tradisional masyarakat Indonesia. Bentuk rumah ini merupakan hasil adaptasi masyarakat terhadap lingkungan alam, misalnya pasang-surut air, menghindari banjir, dan binatang buas. Namun sekarang ini rumah panggung mulai ditinggalkan oleh masyarakat dengan alasan modelnya sudah ketinggalan zaman. 

Sebagai salah satu warisan budaya dan kearifan lokal Indonesia, rumah yang berdiri di atas tiang penyangga setinggi 1-2 meter dari tanah untuk daerah daratan, dan berjarak hingga 4-10 meter dari permukaan air terendah saat surut untuk daerah rawa atau lahan basah ini, memiliki rancangan yang cukup sederhana. Rancangan rumah panggung terbagi atas tiga bagian yang terdiri dari: 1) bagian bawah berupa pondasi serta kolom atau pilar yang tetap dapat menyerap atau dilalui air; 2) bagian tengah berupa rumah induk yang terdiri dari ruang keluarga atau tamu dan kamar tidur; dan 3) bagian atap yang berfungsi sebagai pelindung bangunan dari panas dan hujan. 

Selain dapat menjadi solusi untuk mengatasi permasalahan banjir di Indonesia. Rumah panggung juga memiliki keunggulan lain. Menurut Frick dan Mulyani, model rumah panggung dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan  penyegaran udara secara alamiah. Hal ini dikarenakan angin juga dapat bergerak di bawah lantai, sehingga semua  permukaan  rumah  dikenai udara segar.

Untuk menjamin terjadinya peningkatan kualitas hidup secara berkelanjutan, maka seluruh sumber daya yang ada harus ikut terlibat. Dalam hal ini peranan pemerintah, instansi-instansi pendukung lainnya, dan masyarakat sipil sangat diperlukan guna tercapai hasil yang maksimal dari suatu program yang telah direncanakan.

Seperti yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Banjarmasin. Menurut Peraturan Daerah Kota Banjarmasin Nomor 14  Tahun 2009 tentang Bangunan Panggung, didefinisikan bahwa bangunan panggung adalah wujud fisik hasil konstruksi berupa panggung serta tidak diuruk, tidak menghilangkan fungsi sebagai resapan air pada bagian fungsi bawah bangunan yang mengairi bawah bangunan. 

Pada pasal 4 Peraturan Daerah Kota Banjarmasin Nomor 14  Tahun 2009 tentang Bangunan Panggung disebutkan bahwa, setiap bangunan yang didirikan konstruksinya adalah bangunan panggung dan bangunan tertentu bercirikan daerah budaya banjar. Berdasarkan pasal tersebut, sangat jelas bahwa Pemerintah Kota Banjarmasin mewajibkan warganya agar membangun rumah panggung seperti yang dinyatakan dalam Peraturan Daerah Kota Banjarmasin Nomor 14  Tahun 2009 tentang Bangunan Panggung. Apabila pemilik dan/atau pengguna tidak memenuhi kewajiban yang terdapat dalam Perda ini, maka pemilik dan/atau pengguna akan dikenakan sanksi administratif yang meliputi peringatan tertulis, pembatasan kegiatan pembangunan, pemberhentian sementara atau tetap pada pekerjaan pelaksanaan pembangunan, pembekuan izin mendirikan bangunan panggung, pencabutan izin mendirikan bangunan panggung, perintah pembongkaran bangunan rumah/gedung, serta pembekuan dan atau pembatalan sertifikat laik fungsi. Selain pengenaan sanksi administratif pemilik dan/atau pengguna juga dikenakan sanksi denda paling banyak 10% dari nilai bangunan yang sedang atau telah dibangun. Bahkan juga dapat dikenakan sanksi pidana. 

Berdasarkan fakta di atas dapat disimpulkan bahwa, bila dibandingkan dengan rumah di atas tanah (house on the ground), rumah panggung memiliki beberapa keunggulan yaitu: 1. Sistem konstruksi bangunan rumah panggung memiliki kemungkinan  untuk  tidak terendam  pada  kondisi  genangan air atau banjir  antara 0,5-3 meter (tergantung tinggi kolong) sehingga sangat cocok untuk daerah di Indonesia dengan curah hujan tinggi dan sering terjadi banjir; 2. Rumah panggung juga dapat menjadi solusi dari terhimpitnya lahan-lahan resapan yang semakin berkurang dan juga untuk meningkatkan  penyegaran udara secara alamiah, hal ini dikarenakan pada bagian bawah rumah terdapat kolong yang dapat berfungsi sebagai daerah resapan air; 3. Perlu adanya tindakan dari Pemerintah agar masyarakat dapat menjaga daerah resapan air, sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya bencana banjir. 

Rumah panggung mestinya menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia karena merupakan salah satu bentuk kearifan tradisional, dan menjadi bukti sejarah panjang adaptasi kebudayaan manusia terhadap lingkungannya. Konstruksi, bentuk, dan bahannya pun selaras dengan alam.



Referensi
______. 2007. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

______. 2009. Peraturan Daerah Kota Banjarmasin Nomor 14  Tahun 2009 tentang Bangunan Panggung.

Anonim. 2014. Bencana Alam, Dampak Kacang Lupa Kulit diakses dalam http://regional.kompasiana.com/2014/02/02/bencana-alam-dampak-kacang-lupa-kulit-628974.html (24 Februari 2014).

Frick, Heinz, dan Tri Mulyani. 2009. Arsitektur Ekologis, seri Eko-Arsitektur jilid 2. Semarang: Kanisius.

0 komentar:

Posting Komentar

Curriculum Vitae

CV