13 Feb 2014

PENDIDIKAN ANAK SUNGAI: Upaya Generasi Muda dalam Melestarikan Sumber Air di Kota Banjarmasin

Kota Seribu Sungai, sudah selayaknya masyarakat memberikan sebutan tersebut pada Kota Banjarmasin. Kota yang dilalui oleh dua sungai terbesar di Pulau Kalimantan, yaitu Sungai Martapura dan Sungai Barito ini memiliki berpuluh-puluh sungai, anak sungai, dan bahkan kanal-kanal.
Gambar 1. Peta Kota Banjarmasin
Namun saat ini, masalahan pencemaran lingkungan di Kota Banjarmasin menunjukkan gejala yang cukup besar, khususnya masalah pencemaran air. Pencemaran air di Kota Banjarmasin tidak hanya disebabkan oleh industri yang begitu saja membuang limbahnya ke sungai tanpa melalui pengolahan terlebih dahulu, namun juga disebabkan oleh air buangan rumah tangga yang jumlahnya makin hari makin besar sesuai dengan perkembangan penduduk maupun perkembangan Kota Banjarmasin. Ditambah lagi rendahnya kesadaran masyarakat yang langsung membuang kotoran/tinja maupun limbah padat/sampah ke dalam sungai, menyebabkan proses pencemaran sungai-sungai yang ada di Banjarmasin bertambah cepat.

Dikutip dari Inilah.com, menurut H Hamdi selaku Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Banjarmasin, pada tahun 2012 terdapat enam sungai di Kota Banjarmasin yang tercemar logam, antaralain: Sungai Basirih, Sungai Mantuil, Sungai Mulawarman, Sungai Barito, Sungai Pelambuan, dan Sungai Alalak. Selain itu, tingkat pencemarannya mencapai 27 mg/liter di atas ambang batasnya yang seharusnya hanya 10 mg/liter.

Dikutip dari radarbanjarmasin.co.id, berdasarkan data Pusat Pengelolaan Ekoregion (PPE) Kalimantan, potensi beban pencemaran untuk parameter kunci pada DAS Barito yang masuk Sungai Barito mencapai 94,8 ton BOD (Biological Oxygen Demand) per hari. BOD adalah suatu karakteristik pada air yang menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang diperlukan oleh mikroorganisme untuk mengurai atau mendekomposisi bahan organik dalam kondisi aerobik. Selain BOD, kategori COD (Chemical Oxygen Demand) juga cukup tinggi yakni 121,5 ton per hari. COD adalah jumlah oksigen yang diperlukan untuk mengurai seluruh bahan organik yang terkandung dalam air. Parameter lainnya yakni TSS (Total Suspended Solids) juga tak kalah mengerikan. TSS mencapai 51,344 ton per hari.

Selain itu, menurut Bachtiar Noor, pengamat sungai dan tata kota di Banjarmasin menyatakan sepertiga dari empat ratusan sungai telah hilang dan diperkirakan yang masih tersisa sekitar 108 sungai saja di Kota Banjarmasin. Jumlah sungai yang hilang di Kota Banjarmasin akan terus bertambah seiring dengan pertumbuhan pembangunan di kota ini (Antaranews.com, 2010). 

Apabila kondisi seperti ini tidak mendapat perhatian yang lebih, maka lingkungan dan sungai yang menjadi sumber air di Kota Banjarmasin akan semakin tercemar dan akan berdampak sangat luas, misalnya dapat meracuni air minum, menimbulkan bau yang menyengat, meracuni makanan hewan, menjadi penyebab ketidakseimbangan ekosistem sungai, dan berdampak kepada kesehatan warga. 

Salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas air dan lingkungan di Kota Banjarmasin adalah dengan melakukan revitalisasi sungai yang ada di Kota Banjarmasin dan sekitarnya. Revitalisasi adalah proses, cara, dan perbuatan yang menghidupkan kembali suatu hal yang sebelumnya kurang terberdaya dengan usaha-usaha untuk menjadikan sesuatu itu menjadi penting dan perlu sekali.

Salah satu upaya revitaslisasi sungai yang dapat dilakukan adalah dengan membuat Program Pendidikan Anak Sungai. Program ini dilakukan guna menumbuhkan kesadaran generasi muda agar menjaga kelestarian sungai. Kegiatan pendidikan anak sungai meliputi tentang ekosistem sungai, sumber pencemaran sungai, dampak pencemaran sungai, penanggulangan pencemaran sungai, serta pemeliharaan sungai.

Setelah kelas berakhir, peserta didik diajak melakukan field trip dengan menyusuri sungai yang ada di Banjarmasin, agar generasi muda tersebut dapat mengetahui secara langsung kondisi sungai yang ada. Selain kegiatan pendidikan kepada generasi muda, perlu juga diadakan kampanye “Stop Buang Sampah di Sungai” di lokasi Car Free Day dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam hal perilaku menjaga lingkungan.

Selain itu, blow up media massa yang masif secara terus-menerus dirasa sangat perlu dalam mengangkat isu pencemaran lingkungan, khususnya sungai di Kota Banjarmasin. Hal ini dilakukan guna mendorong opini publik dan pengambilan kebijakan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah.





Referensi:
Antara News. 2010. Ratusan Sungai di Banjarmasin Hilang diakses dari http://www.antaranews.com/berita/222617/ratusan-sungai-di-banjarmasin-hilang (3 Februari 2014).

Media Kalimantan. 2012. Enam Sungai di Banjarmasin Berbahaya diakses di http://sindikasi.inilah.com/read/detail/1830750/URLTEENAGE (3 Februari 2014).

Radar Banjarmasin. 2013. Pencemaran Sungai Mengerikan diakses di http://www.radarbanjarmasin.co.id/berita/detail/61884/pencemaran-sungai-mengerikan.html (3 Februari 2014).

0 komentar:

Posting Komentar

Curriculum Vitae

CV