3 Okt 2011

Gak perlu punya banyak modal

Pada bulan Juni hingga Agustus 2011 aku menjalani perjuangan yang cukup panjang untuk menembus ketatnya persaingan memasuki jenjang Perguruan Tinggi. Pada bulan Juni-Juli 2011 aku berjuang agar menembus ketatnya persaingan di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS)-ITS, saat itu aku mengikuti tes untuk masuk PENS sampai dua kali tetapi tetap saja aku dinyatakan tidak lulus.

Kemudian pada bulan Agustus aku kembali lagi ke Jawa Timur untuk mengikuti tes di Universitas Airlangga (UNAIR) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Setelah selesai melakukan pendaftaran untuk mengikuti tes UNAIR aku pun mulai berpikir untuk pergi ke daerah Malang untuk mendaftarkan diri mengikuti tes masuk UMM.

Sampai suatu hari datang beberapa mahasiswa asal Banjarmasin yang kuliah di Universitas Islam Malang (UNISMA) ke Asrama Mahasiswa Kalimantan Selatan (AMKS) Hasanuddin  untuk mengantarkan temannya yang ingin mengikuti tes di UNAIR. Mahasiswa UNISMA itu bernama Ragil (yang sedikit agak sangar tapi sesungguhnya sangat baik), Chandra (orang yang berkacamata dan memiliki postur yang agak bulat), teman-temannya yang juga kuliah di UNISMA, dan teman-temannya yang mengikuti tes di UNAIR. Kebetulan setelah mereka mengantarkan teman-temannya yang mengikuti tes di UNAIR itu pada malam harinya mereka berencana untuk pulang ke Malang, disinilah aku mendapat petunjuk agar dapat pergi ke Malang (setidaknya aku bisa mengurangi ongkos transport untuk pergi ke Malang). Kemudian aku pun ikut dengan mereka bersama dengan salah satu orang yang juga ingin ikut tes di UNAIR tetapi dia ingin ke Malang dulu sebelum mengikuti tes di UNAIR.

Malamnya pun aku langsung berangkat dari Surabaya menuju Malang. Di tengah perjalan, hawa dingin Malang mulai menusuk tubuhku dan setelah kurang lebih 2 jam akhirnya aku sampai di rumah yang dikontrak oleh mahasiswa-mahasiswa Banjar yang kuliah di UNISMA. Selama di sana aku pun diberikan kepercayaan untuk menempati salah satu kamar di rumah itu, kamar itu terletak paling depan dan di kamar tersebut aku tidur sendirian.

Foto kamar tempat menginap selama di Malang

Selama di sana aku merasa sedikit menggigil terutama pada malam dan subuh karena belum terbiasa dengan hawa daerah tersebut. Tetapi untuk siang harinya terasa sangat teduh sekali karena hawa panas disana sangat tidak terasa. Selama di Malang Ragil dan Chandra selalu membantu, mereka menyediakan makan, membantu pergi ke UMM untuk mendaftarkan diri mengikuti tes, dan yang sangat luar biasa adalah aku diajak makan di Pizza Hut. Meskipun suasana malam terasa dingin dan membuat benar-benar menggigil tapi karena diajak makan gratis di Pizza Hut maka aku pun bela-belain untuk tetap kuat menahan hawa dingin yang menusuk raga.

Sampai suatu ketika hari diadakannya tes UNAIR pun hampir tiba, kami pun mulai mengatur rencana untuk kembali ke Surabaya. Tetapi lagi-lagi aku sangat-sangat dibantu oleh Ragil, pada saat ingin kembali ke Malang Ragil memutuskan untuk kembali mencarter mobil dan bekumpulan/urunan/patungan (bahasa banjar / bahasa jawa / bahasa indonesia) untuk mencarter mobil tersebut, yang membuat aku benar-benar shock dan agak kaget adalah aku hanya diminta 20 ribu rupiah, secara loe tau sendiri kan kalau mencarter mobil 1 hari itu memerlukan biaya lebih dari 300 ribu rupiah belum lagi ditambah dengan bensinnya. Akhirnya besoknya pun kami kembali ke Surabaya dan setelah mengantarku dan teman yang ikut tes di UNAIR juga Ragil dan Chandra pun kembali pulang ke Malang.

Selama di Malang aku hanya mengeluarkan uang kurang dari 30 ribu rupiah, itu sudah termasuk makan dan transport.

Untuk mengikuti tes masuk UMM aku kembali nebeng dengan Ragil dan Chandra, kali ini mereka mengajak teman-teman yang tes di UNAIR untuk berjalan-jalan ke daerah Malang. Pada malam keberangkatan menuju Malang, ditengah perjalan aku baru nyadar bahwa sepatuku ketinggalan di AMKS Hasanuddin, dan sekarang aku hanya menggunakan sendal jepit. Kemudian Chandra dan Ragil kembali membantuku, mereka pun meminjamkan sepatu untuk ku pakai sehingga aku bisa berangkat mengikuti tes masuk di UMM dengan menggunakan sepatu.

Setelah selesai melakukan tes, aku pun memutuskan untuk langsung kembali ke Surabaya di hari itu juga, karena aku merasa kurang pas dengan hawa dingin yang ada di Malang. Setelah tes itu aku mencari ojek (sebenarnya di Surabaya dan Malang tidak ada ojek, tetapi saat itu satpam di UMM bersedia menjadi ojek), aku pun mengembalikan sepatu yang aku pinjam ke rumah kontrakan mereka dengan bermodal ojek dadakan dan GPS yang ada, aku pun menyempatkan diri untuk mampir di AMKS Mandastana Malang. Dan pada sore harinya aku pun berangkat kembali menuju Surabaya. Padahal keesokan harinya Ragil dan Chandra berniat untuk pergi ke Surabaya untuk mengantarkan teman-teman mereka, tetapi karena aku merasa kurang pas dengan suhu di Malang maka aku pun kembali. Kalau saja aku tidak kembali secepat itu mungkin aku benar-benar hanya mengeluarkan uang kurang dari 30 ribu rupiah untuk 2 kali pulang pergi Surabaya-Malang.

0 komentar:

Posting Komentar

Curriculum Vitae

CV